Sabtu, 07 Agustus 2021

Pentingnya Posyandu Di Masa Pandemi Covid 19

   Upaya  kesehatan  di Pos  Pelayanan  Terpadu (Posyandu)  dalam adaptasi kebiasaan baru tetap dilakukan sebagai upaya percepatan pencegahan stunting, peningkatan kesehatan ibu dan anak, penyuluhan, dan penyebarluasan informasi kesehatan, serta surveilans kesehatan berbasis masyarakat rangka pencegahan dan pengendalian  Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). 

  Pusat Kesehatan Masyarakat wajib melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait ditingkatannya, serta pendampingan kepada Posyandu di wilayahnya untuk memastikan bahwa pelaksanaan upaya kesehatan di posyandu dalam masa adaptasi kebiasaan baru. Posyandu yang berada di daerah zona kuning, zona oranye, dan zona merah tidak melakukan hari buka Posyandu dan kegiatan dilaksanakan melalui penggerakan masyarakat untuk kegiatan mandiri kesehatan atau janji temu dengan tenaga kesehatan  serta melaporkannya kepada kader posyandu, yang dapat dilaksanakan dengan pemanfaatan teknologi informasi, dan komunikasi.

  Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan salah satu lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan yang mewadahi pemberdayaan masyarakat dalam pelayanan sosial dasar yang pelaksanaannya dapat disinergikan dengan layanan lainnya sesuai potensi daerah. Salah satu kegiatan sosial dasar di Posyandu, yakni kegiatan kesehatan, yang utamanya adalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana  (KB), Imunisasi, Gizi, dan pendidikan pola hidup sehat yang dilakukan dalam 5 (lima) langkah kegiatan pada hari buka serta di luar hari buka posyandu. Dalam pelaksanaannya, posyandu dapat mengembangkan kegiatan tambahan sesuai dengan kebutuhan, kesepakatan dan kemampuan masyarakat.

Pada masa adaptasi kebiasaan baru, setiap kegiatan yang dilakukan dengan mengumpulkan masyarakat harus dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. Oleh karena itu, kegiatan pelaksanaannya harus mengikuti Panduan Operasional Posyandu di Masa Wabah Covid-19 untuk menjadi acuan para pemangku kepentingan untuk penerapan masyarakat produktif dan aman dari penularan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Tujuan dibukanya posyandu di masa pandemi adalah menjadi acuan bagi pemangku kepentingan terkait dan tenaga pemberi layanan dalam pelaksanaan upaya kesehatan di Posyandu dalam adaptasi kebiasaan baru. Adapun tujuan khususnya adalah terlaksananya pelayanan gizi di Posyandu; terlaksananya pemantauan kehamilan, nifas, konseling menyusui, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, remaja serta lanjut usia di posyandu dalam adaptasi kebiasaan baru; terlaksananya pelayanan imunisasi di posyandu; terlaksananya Pelayanan KB di posyandu; terlaksananya peningkatan perilaku hidup sehat di Posyandu.

  Beberapa peran posyandu di tengah pandemi yang diperlukan:  

1. Pemantauan pertumbuhan balita di antaranya melalui penimbangan dan pengukuran serta pengisian KMS 

2. Pemberian kapsul vitamin A untuk anak 

3. Praktik pemberian makan bayi dan anak 

4. Pendidikan gizi ibu balita, misalnya edukasi pentingnya pemberian ASI eksklusif dan MPASI 

5. Penyuluhan kesehatan maupun gizi pada kelas ibu hamil, seperti cara mencegah anemia dan pentingnya IMD 

6. Edukasi virus corona, mulai dari menjelasan apa itu Covid-19 hingga cara mencegah penularan penyakit tersebut 

Nama : Elfira Maulidia R

NIM : 7318023

Fak/Prodi : FIK/S1. Keperawatan

DPL : DR. Nasrudin, SKM, M.Kes

#KPMMandiriUnipdu

Membangun Resiliensi Keluarga Ketika Menghadapi Pandemi Covid 19

  Kondisi pandemi Covid-19 saat ini yang berdampak pada aspek finansial, kesehatan, pendidikan,dan hal-hal lain membuat keluarga perlu mendukung satu sama lain sehingga dapat mengembangkan resiliensi di dalam keluarga. Resiliensi menjadi penting dalam keluarga, karena di dalamnya ada aspek-aspek eksternal-internal yang penting untuk menjalankan roda kehidupan.optimisme di masa pandemi adalah suatu hal yang perlu dipupuk dengan berbagai upaya agar dalam menghadapi pandemi ini, kita mendapat energi positif. Dalam situasi itu, masyarakat dihadapkan pada perubahan dari berbagai tatanan kehidupan yang kurang diantisipasi oleh banyak pihak. Inilah yang menyebabkan kekayaan batin kita dapat tergerus karena ancaman-ancaman dari luar itu berpengaruh besar pada kesehatan mental yang sebenarnya berfungsi untuk mengelola abstraksi kehidupan kita.Berbagai hal ini menjadi penyebab banyak orang mengalami permasalahan kesehatan mental seperti peningkatan kecemasan dan stres yang berefek pada perilaku tidak produktif. Tidak hanya itu, banyak orang terpaksa untuk beradaptasi dengan realitas baru yang didominasi oleh ketakutan akan penyebaran dan penularan virus. Karena itu, kemampuan untuk resiliensi sebagai benteng ketahanan diri dan bertahan di tengah kondisi pandemi global saat ini sangat perlu diperhatikan. Dalam definisi psikologi, resiliensi bukan hanya sekedar daya tahan, melainkan juga kemampuan individu untuk beradaptasi secara positif dan efektif sebagai strategi dalam menghadapi kesulitan. Hawley dan DeHaan (1996) sendiri mendeskripsikan resiliensi keluarga sebagai kondisi keluarga yang sanggup beradaptasi dan berhasil melalui faktor pendorong stress, baik di situasi-situasi sekarang maupun masa mendatang.

  Keluarga yang resilien atau berdaya tahan lebih akan merespon secara positif segala kesulitan melalui cara-cara tertentu, sesuai konteks, tingkat permasalahan, kombinasi interaktif antara faktor-faktor risiko dan protektif yang dimiliki, serta dengan mempertimbangkan sudut pandang seluruh anggota keluarga.Kondisi yang terjadi saat ini di tengah wabah Covid-19, pada umumnya individu berjuang untuk melindungi diri dan anggota keluarganya agar tidak terinfeksi. Dengan bertambahnya angka individu yang terkena Covid-19 dari hari ke hari, kondisi itu membuat keluarga di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia juga merasakan kekhawatiran dalam menghadapi hal tersebut. Perubahan demi perubahan juga dihadapi oleh keluarga-keluarga akibat dampak dari wabah ini terutama perubahan kebiasaan baik yang terjadi pada sektor pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi akibat wabah tersebut tentu saja memengaruhi kehidupan seluruh anggota keluarga di dalamnya.Wabah Covid-19 ini dalam tingkatan tertentu memengaruhi sistem terbesar yaitu chronosystem yang membentuk perilaku dan karakter lingkungan sosial yang lebih luas. Perubahan perilaku dan karakter lingkungan dalam skala besar akan berimbas pada microsystem, tempat keluarga dan lingkungan terdekat lain berada. Contohnya dalam situasi seperti ketika menghadapi wabah ini, seluruh keluarga yang biasanya beraktivitas di luar rumah namun saat ini harus tinggal diam di dalam rumah, sebagian besar keluarga juga melakukan tugas-tugasnya dari rumah. Hal tersebut harus dilakukan karena adanya perubahan perilaku lingkungan sosial dalam upaya meredam penyebaran wabah Covid-19. Hal ini berimbas pada perubahan di dalam kebiasaan yang ada pada keluarga.

  Setiap keluarga tidak ada yang bebas dari masalah. Setiap keluarga memiliki tantangan masing-masing untuk dapat menyelesaikan masalahnya tersebut. Masalah keluarga yang timbul seringkali berakhir tidak menyenangkan dengan terjadinya perpecahan dan keterpurukan pada masing-masing anggota keluarga.Suatu proses yang mendukung dibutuhkan dalam keluarga untuk dapat mengatasi tantangan dan bangkit dari keterpurukan sehingga menjadi keluarga yang resilien. Walsh (2003, 2016) menyatakan bahwa resiliensi keluarga merupakan kemampuan keluarga sebagai sebuah sistem untuk dapat mempertahankan keluarga tersebut untuk bangkit dari keterpurukan dan merupakan proses yang dijalani sepanjang kehidupan keluarga.

Nama : Elfira Maulidia R

NIM : 7318023

Fak/Prodi : FIK/S1. Keperawatan

DPL : DR. Nasrudin, SKM, M.Kes

#KPMMandiriUnipdu

Pentingnya Posyandu Di Masa Pandemi Covid 19

   Upaya  kesehatan  di Pos  Pelayanan  Terpadu (Posyandu)  dalam adaptasi kebiasaan baru tetap dilakukan sebagai upaya percepatan pencegaha...